Skip to main content

Mereka Bilang, Korban Dari Perceraian Adalah Anak

Aku ga setuju dengan judul artikelku kali ini, *nah lho* :p  Ketika aku mengalami ujian dalam rumah tanggaku, dan aku dihadapkan pada masalah perceraian, saat itu aku sama sekali tidak merasa anak akan jadi korban dari perceraianku, karena perceraianku dengan suamiku saat itu adalah yg terbaik, setelah bercerai aku merasa jauh lebih tenang, lebih damai dan semua itu tentunya berdampak pula pada psikis anakku.

Sebelum aku mengalami perceraian, bisa jadi aku pun pernah berfikir demikian, bahwa saat perceraian terjadi, anaklah yg menjadi korban. Bahkan sampai sekarangpun aku masih bisa berfikir bahwa anak adalah korban, akibat dari perceraian untuk beberapa kasus, misal : ketika perceraian itu terjadi akibat perselingkuhan salah satu pihak, kemudian salah satu pihak mendoktrin anak untuk menjauhi salah satu pihak. Dalam kasus seperti itu anak memang benar2 menjadi korban dari permasalahan orangtuanya. 

Tapi, yang benar menurutku, anak bukan korban dari perceraiannya, tapi korban dari permasalahan orangtuanya. Apakah anak dari orangtua yg tidak bercerai namun penuh dengan konflik, tidak bisa dibilang korban juga? Ya, mereka juga korban dari permasalahan orangtuanya. Dan belum tentu, anak dari orangtua yg bercerai, tidak bisa lebih baik secara psikis, dari anak yg orangtuanya utuh. 

Jadi jangan bilang, mereka yg bercerai adalah orangtua yg telah menjadikan anak mereka sebagai korban, coba tolong lihat dulu situasi dan kondisi yang sebenarnya. Perceraian bisa jadi jalan terbaik untuk beberapa kasus. 

Ini hanya ulasanku aja mengenai statement-statement yang aku rasa kurang bijak pada kasus-kasus perceraian. Karena aku mengalaminya, maka aku berusaha memberikan ulasan dari sudut pandang orang yg mengalami perceraian ^^

Comments

  1. Saya sendiri memiliki prinsip "lebih baik bercerai,drpd 'awet rajet'(awet tp ancur di dlm)". Menurut saya, perceraian msh lebih baik drpd bertahan hidup bersama tp tdk bahagia utk kedua belah pihak dan anak, tentunya. Biarlah org lain mau bilang apa, tapi yg tahu persis masalah dan menjalaninya ya kita sendiri. Hidup itu indah, dan kita berhak bahagia,dg atau tanpa dia:-) Semoga mak Arifah tetap jadi wanita yg hebat dan disayangi Alloh SWT. aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak, perceraian memang bisa jadi solusi terakhir yang diambil, kalau memang mempertahankan rumah tangga malah menimbulkan banyak ketidakbaikan utk masing2 pihak ;)
      aamiin, makasiih mamanya Mika..

      Delete
  2. Hai, kenalkan saya Thella. Aku dan teman-temanku membangun sebuah komunitas "Rumah Kedua" yang menjadi wadah bagi anak-anak berlatar belakang broken home untuk saling berbagi cerita, kasih sayang, dan semangat. Selengkapnya bisa kalian cek di http://mrrsforlife.blogspot.com/ . Mohon kabarkan kelahiran komunitas ini ya, aku percaya tak sekedar niat baik yang mendorong kami berbuat tapi juga kesadaran bahwa "Rumah Kedua" ini dibutuhkan. Terima kasih :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …