Skip to main content

Ibumu, Ibumu, Ibumu, Kemudian Ayahmu..

Hal yang paling kutakutkan saat aku sedang dalam proses perceraian adalah jika sampai aku terpisah dari putriku. Sebagai seorang ibu yang memiliki kedekatan batin yang besar dengan anak, yang dimulai sejak masih dalam kandungan, saat proses lahiran, dan setelahnya..tentu aku tak ada sedikitpun keinginan untuk jauh dari putriku. Apalagi ketika itu putriku masih bayi. Aku takut jika sampai pengadilan memutuskan pengasuhan putriku jatuh ke tangan mantan suami. 

Secara hukum, apabila terjadi perceraian maka anak yang berusia di bawah 12 tahun berada di bawah pengasuhan ibunya.

Dalam Kompilasi Hukum Islam Tahun 1991 pasal 105 ditetapkan :
(1) pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya
(2) pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada si anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya

 (3) biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.

Namun, kenyataannya ada juga kasus-kasus dimana anak yang masih dibawah 12 tahun harus berpisah dari ibu kandungnya, pasca kedua orang tuanya bercerai. Biasanya karena sang mantan suami menuntut hak asuh anak dalam draft perceraiannya. Ya kalau kenyataannya sang mantan suami bisa membuktikan, bahwa ibu kandung dari anak tersebut tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai ibu, oke lah yaaa.. Tapi kalau sang mantan suami tersebut menuntut hak asuh anak, tanpa dasar yang kuat dari segi agama maupun hukum, melainkan hanya karena keegoisannya, atau didasari kebenciannya pada mantan istri, nah ini yang bikin aku gemesss banget. Ter..la..lu !

Bagaimana pun, seorang ibu memiliki hak yang lebih besar dalam hal pengasuhan anak dibanding seorang ayah. Kenapa? Karena ibunya lah yang mengandungnya, yang melahirkannya dan menyusuinya. 

Dalam islam pun kewajiban kita sebagai anak untuk berbakti pada ibu tiga kali lipat lebih besar dibanding terhadap ayah.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, 
“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu."  
(HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Maka dari itu, aku merasa sangat prihatin saat ada kasus perceraian yang membuat seorang anak harus dipisahkan dari ibu kandungnya, tanpa ada alasan yang kuat dilihat dari segi agama maupun hukum. Aku sangat bersyukur Allah mengabulkan doa-doaku saat aku mengalami perceraian, hingga akhirnya pengadilan memutuskan putriku berada dalam asuhanku ^^ Alhamdulillaah

Comments

  1. Hallo Mbak..Terima kasih sudah mampir di eviindrawanto.com. Ikut sedih bersama ibu yang kehilangan hak asuh anaknya ya Mbak. Dan bersyukur dirimu tak demikian.
    Salam manis dari Serpong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo mbak Evi ^^
      iya bersyukur alhamdulillaah, salam manis kembali dari Cimahi ya..

      Delete
  2. Dulu sy diajak ke pengadilan agama untuk memilih ikut papa atau mama, saat itu sy sdh smp, sy pilih ikut mama. Bukan ga sayang papa tapi sbg remaja puteri sy butuh lbh dekat ke mama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mudah-mudahan pilihan mak Puteri memang yg terbaik ^^
      selain karena perempuan memang lebih butuh figur mama (tanpa mengecilkan peran ayah), juga karena kita dianjurkan utk lebih mendahulukan seorang ibu..

      Delete
  3. Replies
    1. terimakasiih mak Salma ^^
      semangat juga untuk mak Salma yaa..

      Delete
  4. Mak... sharing ini bikin aku merinding. Semangat trs ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasiih yaa mak Gracie ^^
      semangat terus juga dalam membesarkan Ubii mak..

      Delete
  5. Saya juga pernah alami hal yang sama denganmu, Mak. Dan saya memenangkan hak asuh terhadap putriku, karena pengadilan menilai bahwa ibunya [saya] lebih layak dan bertanggung jawab utk mengasuh dan membesarkan putri saya. Tanggung jawab finansial anak dihibahkan kepada ayahnya, tp tetap aja si ayah tak bertanggung jawab, dan namanya ibu, kita akan lakukan apa saja utk membesarkan dan mengasuh putri kita kan? Terlepas ada tidaknya biaya yang dikirimkan ayahnya. :) Ayo, semangat yuk Mak, being single parent bukanlah hal yang mengerikan. Hidup ini tetap akan indah jika kita pandai bermain dengan ombak kehidupannya. *jiah, kok malah curhat dan bikin postingan di sini ya?

    Salam manis dari Cimahi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iih seneng malah, mak Alaika mau sharing di blogku ;)
      syukurlah mak, kalau mak Alaika juga berhasil dapet hak asuh anak, insya Allah itu memang yg terbaik. Tenang aja rezeki anak ga kemana, sekalipun ayahnya blm ada tanggung jawabnya dalam finansial.
      insya Allah semangat terus mak, trims ya.. setuju, menjadi single mother aku tetap happy kok..
      Cimahi, serius..? sama dong maaak :p

      Delete
  6. Hmm ... Hmmm ... Bingung mau komen apa =) semoga putrinya tetap tumbuh dlm kasih sayang yg berimbang. Dan smg perceraian benar2 menuntaskan perselisihan yg ada. Krn byk kejadian, sewot2an msh blanjut walau sudah ketuk palu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin, makasiih mbak Melati ^^ salam kenal yaa..
      iya memang mak, hal itu pun sempat saya alami.. alhamdulillaah sekarang jauh lebih tenang..

      Delete
  7. anak dan ibu idealnya tak terpisahkan, dan perceraian memang seringkali membuat segala sesuatu menjadi rumit. terima kasih sharingnya dan semangat terus ya maaak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. mak Indah makasiih ^^
      betul mak, perceraian kerap menghasilkan masalah2 baru tapi sebagian lagi menjadi solusi dari berbagai masalah yg ada dalam rumah tangga..

      Delete
  8. Semangat ya mak semoga selalu diberi kemudahan kedepannya

    ReplyDelete
  9. semoga Allah membimbing langkah mak Arifah dalam mendidik putrinya, semoga putrinya menjadi putri sholihah berbakti pada orang tua. terharu mak membaca tulisan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah mak Ida makasih yaa udah didoain ^^
      aamiin mak doanya..

      Delete
  10. semoga diberi kemudahan dalam mendidik buah hati ya mak...banyak imam2 besar dlm islam dibesarkan oleh ibu2 mereka yg janda...tetapi mrk berhasil menjd manusia2 yg luar biasa...tetap semangat, istiqomah & kuat ya mak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasiih banyak ya bunda Irowati ^^ untuk doanya..
      aamiin.. makasih bun untuk motivasinya..

      Delete
  11. Saya belajar dari pengalaman mak Arifah, bagaimanapun, Ibu lebih berhak atas pengasuhan anaknya. Semoga tetap kuat dan bersabar ya, mak :)

    ReplyDelete
  12. Semoga selalu diberi kekuatan dan kemudahan dalam membesarkan si kecil Mak :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Teliti Saat Datang Ke Counter Service

Berkaitan dengan postinganku beberapa hari lalu tentang si BB yang bikin galau karena rusak, nah..alhamdulillaah kemaren BB ku sudah kembali beroperasi, kembali ribut dengan notifikasi beberapa menit sekali *saking eksisnya diriku, hihi..lebay*. 

Jadi  gini ceritanya, pas rusak beberapa hari lalu itu aku coba goggling untuk cari tau kira-kira apa penyebab BB ku rusak ga bisa di charge. Berdasarkan hasil goggling sih kayanya konektor charger BB ku yang rusak jadi dicharge ga bisa masuk (ga nyambung).

Aku putusin untuk bawa BB ku ke counter service BB di Cimahi Mall. Sampailah aku di salah satu counter, sebut saja counter A. Aku bilang BB ku ga bisa di charge, terus si penjaga counter tersebut memeriksa keadaan BB ku. Ga berapa lama kemudian, penjaga counter tersebut bilang kalau BB ku konektor chargernya rusak, dan harus diganti. Ahaaa, berarti hasil gogglingku tepat ^^ Ehh, beberapa menit kemudian si penjaga counter bilang lagi kalau batre BB ku juga rusak, katanya udah kembung.. ya ela…