Skip to main content

I'm Not Truly A Full Time Mother

Aku memang tidak punya karier di luar rumah. Tapi aku juga bukan seorang ibu rumah tangga tanpa sebuah pekerjaan yang menghasilkan uang. Aku seorang single mother yang memiliki kewajiban untuk berusaha mencari nafkah. Aku memutuskan bekerja dari rumah, alhamdulillaah sejak tahun 2012 aku memulai usaha online ku, namanya Shalihah SHOP. Pada mulanya usahaku ini bernama Shalihah Buks, yaitu toko online di facebook yang menjual buku-buku agama islam. Namun beberapa bulan kemudian berganti nama menjadi Shalihah BuksShop, dan pada saat yang bersamaan aku membuat fanspage toko online yang menjual aneka jilbab. Fanspage ini ku beri nama Shalihah SHOP. Nama Shalihah sendiri aku ambil dari nama depan putriku Alia. 

Dalam menjalankan toko online aku pun mengalami pasang surut, ada kalanya aku merasa jenuh hingga kemudian aku lebih memilih fokus ngurus Alia. Akhirnya sempat beberapa waktu toko ku ini sepi. Bukan hanya sepi pengunjung, namun sepi dari sentuhanku.. *cieee..bahasamu* Jangankan pembeli, aku pun kurang semangat rasanya mengunjungi toko ku sendiri *beeuuughh* Iya, inilah aku..yang terkadang naik terkadang turun termasuk dalam hal semangat berusaha. 

Ada kalanya aku pun merasa bersalah pada Alia, aku tidak sepenuhnya mencurahkan perhatianku padanya sekalipun seharian aku ada di rumah bersamanya. Aku harus membagi-bagi perhatianku untuk Alia, untuk kerjaan online ku, untuk kerjaan rumah tangga, dan untuk diriku sendiri. Terkadang waktuku untuk Alia malah tidak terlalu banyak. Aku bisa berjam-jam di depan netbook, dan hanya memperhatikan Alia yang bermain kesana kemari ditemani mamaku. Terkadang ingin rasanya aku meninggalkan kerjaan online ku untuk bisa menjadi seorang full time mother.

Full time mother menurutku adalah seorang ibu yang secara penuh memberikan sebagian besar waktu yang ia miliki untuk mengurus anaknya. Ya..kenyataannya aku belum bisa seperti itu, aku punya tanggung jawab lain seperti berusaha mencari nafkah. Namun aku berusaha menciptakan bonding yang baik dengan anakku. Ada saat-saat quality time bersamanya, seperti saat memandikannya, saat menemaninya menggambar, membuatkan susu untuknya, menemaninya tidur siang, bercengkerama dengannya, menemaninya makan camilan, hingga menemaninya tidur malam. 

Meskipun hasil yang aku dapat dari usaha online ku saat ini memang belum seberapa namun aku yakin tak ada hasil jika tanpa usaha. Berapapun hasil yang aku terima mudah-mudahan aku selalu bisa mensyukurinya. 

Mudah-mudahan kelak Alia mengerti mengapa mamanya tak bisa selalu menemaninya bermain sekalipun ada bersamanya di rumah. Bukan karena mama kurang perhatian sayang, tapi karena mama mempunyai pekerjaan di rumah sehingga waktu mama untukmu harus mama bagi-bagi. Sekalipun begitu, Alia tetap prioritasku. Buat mama kamu tetaplah yang paling penting, yang paling berharga dan yang menempati porsi paling besar di ruang hatiku ^^

Comments

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …