Skip to main content

Jangan Sebut Mereka Cacat ! (Mereka Hanya Berbeda Kemampuan Dengan Kita)

Semua ciptaan Allah pada dasarnya memiliki tujuan dan fungsinya masing-masing. Demikian pula kita sebagai manusia, diciptakan dengan kemampuan yang berbeda-beda. Disinilah sikap toleransi, saling menghargai, serta tenggang rasa kita diuji. Dengan kemampuan kita yang berbeda satu sama lain seharusnya kita saling melengkapi. Bukan malah saling menjatuhkan atau merendahkan pihak yang kita anggap berada di bawah kita.

Sebenarnya orang-orang yang tidak bisa melihat, tidak bisa bicara, tidak bisa mendengar, tidak memiliki tangan, atau yang tidak memiliki kaki, mereka semua BUKAN ORANG CACAT. Tak ada satu pun ciptaan Allah yang cacat, Allah Maha Sempurna. Barang yang dibuat oleh manusia bisa kita sebut cacat, karena kita memang tak sempurna. Tapi, kalau ciptaan Allah kita sebut cacat, pantaskah?? Pantaskah kita menyebut ciptaanNya dengan sebutan cacat? Tentu tidak. Astaghfirullah, mudah-mudahan Allah Yang Maha Pengampun mengampuni segala kekhilafan kita.

Mereka hanya orang-orang yang memiliki kemampuan berbeda dengan kita. Orang yang tak bisa melihat bisa jadi mata batinnya lebih kuat dibanding kita yang melihat. Orang yang tak bisa bicara melalui lisan, namun bisa bicara menggunakan bahasa isyarat dengan tangan mereka. Begitupun untuk orang-orang yang tak memiliki tangan atau kaki, mereka tetap bisa beraktivitas seperti kita, hanya ada beberapa fungsi tubuh yang berbeda. Orang yang tak memiliki tangan menggunakan kakinya untuk memegang sesuatu atau mengambil sesuatu. See, kita hanya berbeda kemampuan kan, tak ada istilah cacat ^^

Sebenarnya beberapa tahun lalu sudah ada perubahan istilah bagi orang-orang yang memiliki kemampuan berbeda. Istilahnya yaitu DIFFABLE (baca : difabel), singkatan dari DIFFERENT ABILITY PEOPLE (orang yang berbeda kemampuan). Namun sayangnya hingga detik ini masih terdengar orang yang menyebut para diffable itu dengan sebutan cacat. Nampaknya memang kurang sosialisasi, makanya masih banyak juga orang-orang yang memang belum mengetahui istilah ini. Aku pun baru tau setahun terakhir ini, aku tau dari acara TV Hitam Putih saat sang hostnya membahas tentang para diffable.

Yuk kita bantu sosialisasikan istilah diffable ini. Jangan sebut mereka cacat ! Hapuskan istilah cacat yang disematkan pada orang yang memiliki kemampuan berbeda dengan kita. Semua ciptaan Allah itu pada dasarnya indah, hanya kita lah sebagai manusia yang seringkali tak melihat keindahannya. Mudah-mudahan istilah diffable bisa mengurangi bahkan menghilangkan diskriminasi terhadap sesama makhluk ciptaan Allah.

Comments

  1. di sekolah tempat saya mengajar, banyak anak-anak berkebutuhan khusus. karena mereka masuk program inklusi di sekolah reguler. dan bersama mereka, Subhanallah, sungguh peringatan untuk lebih menyayangi mereka :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak hikmah yang kita dapat dari mereka ya mak Rochma ^^

      Delete
  2. Nice sharing, Mbak.
    Suka banget dengan uraiannya tentang istilah diffable.
    Yuk mari kita galakkan menghindari penyebutan cacat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasiiih mak Indah ^^
      ayuk ayuk, penyebutan cacat harus dihapuskan ya mak..

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. peluk baliik mak Gracie ^^ terus semangat yaa..

      Delete
  5. hai maak ...salam kenal...kami di kantor terus mempromosikan penyebutan penyandang disabilitas, untuk menggantikan kata cacat yang sudah begitu mendarahdaging di masyarakat kita. Hal ini sesuai juga dengan Konvensi Hak-hak penyandang Disabilitas yang sudah kita ratifikasi tahun 2011. But certainly, difabel jauh lebih baik daripada menyebutnya dengan cacat...mari kita rubah mindset ini....thanks for joining hands for this...

    ReplyDelete
    Replies
    1. haaii mak Indah Nuria ^^ salam kenal kembali..
      iya mak aku juga setuju, kata difabel jauh lebih halus dibanding disabilitas (disability : cacat / ketidakmampuan). terimakasih kembali mak..

      Delete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …