Skip to main content

Selektif Memilih Teman Bermain Untuk Anak

Sekarang anakku sudah bukan bayi lagi, di usianya saat ini yang sudah lebih dari 2 tahun, ia sudah mulai senang bermain dengan anak-anak sebayanya. Ya, meskipun anakku belum memiliki teman bermain seperti layaknya balita yang sudah terbiasa bermain di luar rumah, maupun balita yang sudah bersekolah di Play Group / PAUD. Teman bermain anakku adalah saudara-saudara sepupunya sendiri. Saat ini aku memang belum membiarkan anakku bermain di luar rumah, seperti bermain dengan anak-anak sebayanya di sekitar rumahku. Aku masih terlalu khawatir, karena menurutku usia 2 tahunan belum cukup untuk membiarkan anak bermain tanpa diawasi oleh orangtuanya. 

Namun aku pun menyadari bahwa anakku akan beranjak lebih besar. Beberapa tahun kedepan ia akan memasuki usia sekolah, dan pada saat itu ia akan memiliki banyak teman di sekolahnya. Seorang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan cenderung mudah terbawa pergaulan. Syukur-syukur jika anak kita memiliki lingkungan pergaulan yang membawa efek positif. Bagaimana jika sebaliknya? Itu lah sebabnya kita sebagai orangtua harus selektif memilih teman bermain untuk anak. 

Hal ini bisa dimulai sejak dini. Pantau anak saat bermain dengan teman sebayanya. Setelah ia bermain, apakah ada pengaruh negatif yang ikut terbawa pada diri anak kita? Jika ada, sebaiknya kita mengawasi anak kita saat bermain dengan temannya. Tentu bukan hal yang bijak jika kita 'mentah-mentah' melarang anak kita bermain dengan temannya. Cobalah cara yang lebih halus. Misalnya :
1.  Kita awasi anak saat bermain
2.  Beri pengertian pada anak terhadap hal-hal yang tidak baik untuk dia ikuti dari temannya tersebut, atau
3.  Ikutlah terlibat (menemani) saat anak sedang bermain dengan temannya, agar kita bisa langsung memberi masukan pada anak (dengan cara halus) akan hal-hal yang kurang baik dilakukan. 

Hal-hal tersebut bisa kita terapkan untuk balita ^^

Comments

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Teliti Saat Datang Ke Counter Service

Berkaitan dengan postinganku beberapa hari lalu tentang si BB yang bikin galau karena rusak, nah..alhamdulillaah kemaren BB ku sudah kembali beroperasi, kembali ribut dengan notifikasi beberapa menit sekali *saking eksisnya diriku, hihi..lebay*. 

Jadi  gini ceritanya, pas rusak beberapa hari lalu itu aku coba goggling untuk cari tau kira-kira apa penyebab BB ku rusak ga bisa di charge. Berdasarkan hasil goggling sih kayanya konektor charger BB ku yang rusak jadi dicharge ga bisa masuk (ga nyambung).

Aku putusin untuk bawa BB ku ke counter service BB di Cimahi Mall. Sampailah aku di salah satu counter, sebut saja counter A. Aku bilang BB ku ga bisa di charge, terus si penjaga counter tersebut memeriksa keadaan BB ku. Ga berapa lama kemudian, penjaga counter tersebut bilang kalau BB ku konektor chargernya rusak, dan harus diganti. Ahaaa, berarti hasil gogglingku tepat ^^ Ehh, beberapa menit kemudian si penjaga counter bilang lagi kalau batre BB ku juga rusak, katanya udah kembung.. ya ela…