Skip to main content

Anak Yang Orang Tuanya Bercerai Bukan Berarti Anak Broken Home

Sumber gambar : shutterstock.com

Pernah dengar istilah broken home kah ? istilah ini memang sudah tidak asing lagi di telinga kita ya. Broken home yang diambil dari bahasa inggris ini memiliki arti keluarga yang berantakan. Sepertinya, ini istilah yang dipakai untuk lebih 'menghaluskan' arti yang sebenarnya dalam bahasa indonesia. Pada awalnya, aku mengira istilah broken home hanya ditujukan pada anak-anak yang orang tuanya bercerai. Padahal, makna dari broken home bukan hanya ditujukan pada anak-anak yang orang tuanya bercerai saja, Istilah ini pun bisa ditujukan pada anak-anak yang memiliki orang tua utuh namun tidak harmonis, misal : ada kekerasan dalam rumah tangga, kedua orang tua terlalu sibuk sehingga anak jadi kurang kasih sayang, serta berbagai hal lain yang bisa menyebabkan kondisi mental anak menjadi terganggu dan tidak sehat.

Menurutku, anak yang orang tuanya bercerai bukan berarti anak broken home. Tentunya tergantung kondisi anak tersebut pasca perceraian kedua orang tuanya, apakah lebih baik atau lebih buruk?, kalau lebih buruk oke lah kita bisa bilang broken home, tapi kalau lebih baik tentu tidak tepat jika istilah broken home ditujukan padanya. 

Itu pula yang aku rasakan saat ini. Setelah bercerai aku merasa jauh lebih tenang, lebih sehat secara batin. Aku yakin kondisi psikis aku sangat berpengaruh terhadap anak. Kata-kata bijak "Happy Parents Make Happy Kids" it's absolutely right, dear ^^ Saat orang tua berada dalam keadaan tertekan, stress, feel unhappy, maka anak pun bisa merasakannya.. Sebaliknya, saat orang tua berada dalam kondisi jiwa yang tenang, bahagia..pasti anak pun bisa merasakannya. Pasca bercerai kehidupanku jauh lebih bahagia, begitu pun anakku.. Aku bisa melihatnya dari keceriaannya, kemudahannya dalam bersosialisasi, dan sikapnya yang lebih tenang.

Jadi, aku bisa dengan yakin mengatakan : don't call my daughter as a child of a broken home (jangan sebut putriku sebagai anak broken home). Saat perceraian adalah jalan terakhir yang harus di ambil, sebagai jalan keluar atas segala konflik orang tuanya, bukan berarti anak dari orang tua yang bercerai akan mengalami masalah dalam perjalanan hidupnya ^^

Comments

  1. Sepakat sekali. Saya mengenal teman-teman yang orang tuanya bercerai dan tetap positif :)

    ReplyDelete
  2. Ortu saya bercerai saat saya masih bayi, dan saya bercerai saat anak2 saya berusia 5 & 3 tahun. heuheu... *malah curhat* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iih seneng di curhatin mak Nurul ^^
      mak sama seperti putriku dong, aku pun cerai saat putriku masih bayi..
      semangat mak..

      Delete
  3. dua kakak sepupu saya juga bercerai dan anak-anaknya bergantian mencetak prestasi di bidangnya masing-masing. semangat ya mak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh, seneng dengernya ;)
      aamiin, makasiih mak Novie..

      Delete
  4. Dari dulu mama sama papa gua sukaa banget bertengkar mungkin setiap hari dan juga papa gua suka mukul mama tapi sekarang mama dan papa udah cerai dan mereka juga udah punya pendamping yang baru di masing2nya sekarang gua tinggal sama papa karena gx mungkin lagi untuk tinggal dengan mama gua tapi gx tau kenapa kak sekarang semenjak orang tua gua bercerai gua jadi anak yang diem malas belajar dan sering nangis jauh beda sama gua yang dulu yang cerewet humoris dll,gua selalu merasa menyesal untuk dilahirkan gua bosan kak sama hidup ini gx ada yang mau ngertiin gua mungkin cuman tuhan yang tau betapa hancur hati gua sekarang gua selalu di perintahkan untuk memilih mama atau papa tapi gua gx bisa kak! gua mau keluarga gua yg dulu walau suka bertengkar tapi setidaknya kita masih bisa makan bareng gx kyk sekarng,mungkin gua masih 13 tahun kak gua masih kecil menurut mereka tapi mungkin mereka gx tau kalau gua udah bisa merasakan sakit, sebenarnya dari dulu waktu dimana ayah gua jarang pulang dan nikah/ pacaran sana sini tapi kenapa gx ada yang peka sama perasaan gua kak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak ya udah mau sharing di blog saya :) Point paling awal yg saya bisa saranin sama kamu, terimalah semua takdirmu. Di usia yg masih sangat belia kamu diberi ujian sebesar ini adalah hal yang luar biasa kalau kamu sanggup menghadapinya dgn baik. Iya, saya tau ini sangat berat, tapi semakin kamu mengeluh dan meratapi, maka semakin kamu merasa terbebani. Semua gak akan menjadi lebih baik dengan kita mengeluhkannya kan :) Kedua, kamu harus harus yakin bahwa apa yang sekarang kamu alami (orangtua kamu akhirnya bercerai) anggaplah ini takdir yang memang terbaik untuk kamu. Kalau misalnya, orangtua kamu gak bercerai bisa jadi keadaan kalian lebih buruk, jadi coba sedikit2/pelan2 kamu bersyukur, ini baik buat kedamaian hatimu. Akan selalu ada hikmah dari setiap kejadian, yakin deh. Hal yang terlihat paling buruk sekalipun, bisa jadi baik buat kita jika kita selalu melihat dari sisi positifnya. Ketiga, kalau kamu merasa gak bisa berdamai dengan keadaan yang bikin kamu sering merasa sedih, gak ada yang mengerti perasaan/maunya kamu, merasakan banyak penyesalan, maka berdamailah dengan dirimu sendiri ;) kamu gak bisa memaksa keadaan berjalan sesuai kemauanmu, kamu gak bisa memaksa kedua orangtua bersikap seperti yg kamu harapkan kalau kenyataannya mereka sulit seperti itu. Saya cuma bisa berdoa supaya Allah memberi kamu kekuatan agar bs menjalani ini semua dgn baik, aamiin. Jangan pernah menyesali hidup yaaa, kamu harus temukan cara untuk bisa bangkit :) Semangat ya!

      Delete
  5. Halo, salam kenal. Saya Marthella, 23 tahun, baru saja pulang mengabdi sebagai guru di pedalaman (Indonesia Mengajar). Membaca tulisan serta komentar di blog ini rasanya seperti menemukan rumah untuk berbagi. Saat ini saya sedang merintis sebuah komunitas "The Special Ones" yang intinya merupakan wadah untuk berkumpul, berbagi, dan beruluran tangan bagi rekan-rekan sesama anak broken-home. Meskipun isu ini sensitif, tapi kami tidak berdiri di poin kelemahan, justru menyadari kebutuhan untuk saling berbagi dan menguatkan diantara kita. Siapa tahu cerita kita bisa menjadi inspirasi atau motivasi untuk orang lain dalam menghargai hidup :) Komunitas ini bisa menjadi keluarga sekaligus rumah kedua kita untuk menuangkan curahan hati dan mungkin kita juga bisa melakukan kegiatan sosial positif untuk memotivasi anak-anak broken-home lainnya. Jika diantara mbak-mbak sekalian atau silahkan dikabarkan ke kerabat sekitar, tertarik untuk bergabung, bisa menghubungi saya via email (theilla.adodo@gmail.com) atau no.hp 081222566991. Tekad saya, jika anggota komunitas ini cukup mumpuni, kita bisa atur jadwal untuk 'kopdar' sambil ngobrol santai (kalau pernah nonton film Rectoverso nya dari Novel Dee Lestari, seperti komunitas orang-orang yang punya Firasat). PS: Sayangnya saya belum sempat bikin blog, selengkapnya untuk detail tentang saya bisa dicek di FB Marthella Rivera Roidatua Sirait, blog www.indonesiamengajar.org, instagram @marthellarrs. Thank you.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Teliti Saat Datang Ke Counter Service

Berkaitan dengan postinganku beberapa hari lalu tentang si BB yang bikin galau karena rusak, nah..alhamdulillaah kemaren BB ku sudah kembali beroperasi, kembali ribut dengan notifikasi beberapa menit sekali *saking eksisnya diriku, hihi..lebay*. 

Jadi  gini ceritanya, pas rusak beberapa hari lalu itu aku coba goggling untuk cari tau kira-kira apa penyebab BB ku rusak ga bisa di charge. Berdasarkan hasil goggling sih kayanya konektor charger BB ku yang rusak jadi dicharge ga bisa masuk (ga nyambung).

Aku putusin untuk bawa BB ku ke counter service BB di Cimahi Mall. Sampailah aku di salah satu counter, sebut saja counter A. Aku bilang BB ku ga bisa di charge, terus si penjaga counter tersebut memeriksa keadaan BB ku. Ga berapa lama kemudian, penjaga counter tersebut bilang kalau BB ku konektor chargernya rusak, dan harus diganti. Ahaaa, berarti hasil gogglingku tepat ^^ Ehh, beberapa menit kemudian si penjaga counter bilang lagi kalau batre BB ku juga rusak, katanya udah kembung.. ya ela…