Skip to main content

Figur Ayah

Ayahku meninggal saat usiaku 4 tahun. Berarti selama 25 tahun ini aku hidup tanpa seorang ayah disampingku. Mamaku tak pernah menikah lagi sejak ayahku meninggal. Otomatis figur ayah tak pernah benar-benar aku dapatkan. Namun aku sangat bersyukur, sekalipun sebagian besar waktu hidupku aku jalani tanpa peran ayah, aku tak pernah mengalami masalah berarti akibat tak adanya peran tersebut.

Hidupku berjalan normal, tak ada kepincangan. Tak ada rasa kurang kasih sayang. Tapi aku tak memungkiri bahwa saat usiaku masih kanak-kanak aku pernah beberapa kali menangis, karena merasa hidupku tak seperti anak-anak lain yang memiliki orang tua lengkap. 

Seiring berjalannya waktu aku semakin dewasa, semakin memahami bahwa jalan hidup tiap orang berbeda-beda. Aku tau bahwa ayahku meninggal diusiaku yang baru 4 tahun itu adalah takdir Allah. Aku tak bisa mengeluhkan takdir-Nya. Yang harus aku lakukan adalah menerimanya dengan ikhlas. Bagaimanapun semua itu ada hikmahnya. 

Ketiadaan ayah disampingku membuatku menjadi seorang wanita yang lebih kuat. Aku merasa cukup tangguh ketika menghadapi masalah. Karena aku tau, aku tak bisa mengandalkan figur ayah yang seharusnya jadi pelindung dan pengayom. Aku juga tak tumbuh sebagai anak yang manja, karena aku memang tak punya sosok ayah yang kerap memanjakan anak perempuannya. 

Tetapi, yang terpenting dari semua ini adalah peran mamaku yang begitu besar. Aku sangat yakin kasih sayang beliau yang begitu besarlah yang membuat hidupku tak terasa pincang, sekalipun tak ada peran ayah disamping kami ^_^ 

Comments

  1. ibu memang segala-galanya ya mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak :) apalagi buat saya, karena ortu saya tinggal mama..

      Delete
  2. Saya sebaliknya, tak punya Ibu lagi... Jadi suka iri kalau lihat anak yang masih bisa merawat Ibu. Hmmm... Kita bersyukur ya, meski tak utuh,tapi kehadirannya membawa keberkahan dalam hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh gitu mak.. Iya semua ada hikmahnya ya mak.. :) Tetap bersyukur..

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …