Skip to main content

Membuat Kartu BPJS

Beberapa waktu lalu aku menemani mama untuk membuat kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Maka kami mendatangi kantor tempat pendaftaran BPJS yang berada di salah satu Ruko Perumahan Kota Mas, Cimahi. Kami datang sudah cukup siang sekitar pukul 10.30 WIB. Aku mengambil nomor antrian, nomor antrian yang aku peroleh adalah 205. Sedangkan nomor antrian yang sedang berjalan saat itu masih di 130 an. Wow..wow..wow masih panjang ternyata..

Baiklah, aku berharap semua akan beres sebelum Zuhur. Satu jam berlalu, dua jam berlalu, tiga jam berlalu, masih belum beres juga.. -_- kondisiku sudah bener-bener cape, ngantuk, mana lapar pula :p Akhirnya, setelah hampir 4 jam selesai juga urusan kami hari itu mengurus pendaftaran kartu BPJS. Eh, belum fix selesai sih, karena kami masih harus membayar setoran pertama ke Bank, kemudian setelah bayar setoran pertama kami harus kembali lagi ke kantor BPJS untuk mengambil kartu anggota BPJS.


Gambar diambil dari sini

Karena urusan kami di kantor tempat pendaftaran BPJS tersebut baru beres sekitar pukul 14.30 WIB, maka kami memutuskan untuk pergi ke Bank (membayar setoran pertama) di hari lainnya. Yaaa, memang sudah sangat cape juga menunggu selama hampir 4 jam. Lagipula setahuku Teller Bank hanya melayani setoran sampai pukul 14.00 atau 15.00 gitu lupa :p hihii..

Menurutku, pelayanan di kantor pendaftaran BPJS tersebut kurang cekatan. Bayangkan, butuh waktu hampir 4 jam untuk melayani sekitar 70 orang pendaftar. Berarti dalam satu jam para pegawai di sana hanya bisa melayani sekitar 17 atau 18 orang pendaftar. Padahal ada beberapa loket yang seharusnya bisa dipakai untuk melayani para pendaftar, namun yang aktif hanya 2 loket saja.

Alhamdulillaah ketika kali kedua kami datang untuk mengambil kartu anggota BPJS, kami tak perlu mengambil nomor antrian. Hanya perlu memberikan slip bukti pembayaran setoran pertama dari Bank, dan kemudian menyebutkan nomor antrian waktu pertama datang (yaitu 205), kartu BPJS sudah bisa kita ambil ^_^

Comments

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …