Skip to main content

Susahnya Jadi Mama yang Selalu Sabar dan Lembut

Waaah ternyata jadi mama yang selalu bisa sabar dan lembut itu susahnya minta ampun deh. Apalagi buat aku yang aslinya ga sabaran, suka gampang emosi, dan keras kepala. Rasanya seperti mendaki di gunung tinggi tanpa alas kaki di tengah hujan deras dan gelapnya malam seorang diri *hiii, sangat hiperbola -_-

Waktu Alia masih bayi sih, belum terlalu banyak menguji kesabaran, karena dia belum bisa menyampaikan apa yang dia mau dan tak mau dengan jelas, keinginan seorang bayi juga belum sebanyak keinginan anak batita. Paling nangis, kasih susu, ditimang-timang atau dinyanyiin, diem..beres deh :) Tapiii, semakin kesini anak semakin bisa mengutarakan keinginannya, semakin banyak kemauan dan tingkahnya semakin macam-macam.

Aku yang saat awal-awal menjadi mama, ingin sekali bisa menjadi mama yang selalu sabar dan lembut pada anak, lama kelamaan pondasi sabarku terkikis sedikit demi sedikit. Kadang kalau lagi benar-benar kesal, keluar juga deh nada-nada tinggi. Gemeees banget, ini mulut kok ga bisa ditahan ya untuk tak mengeluarkan nada tinggi saat berada di puncak kemarahan. 

Padahal jika anak batita berbuat ulah, bikin kesal mamanya, susah di atur, susah di kasih tau, atau bersikap serba salah, itu adalah hal-hal yang wajar aja mereka lakukan. Asalkan tak berlebihan dan tak menyakiti dirinya sendiri ataupun orang lain, itu termasuk proses dari bagian tumbuh kembang mereka. 


Sumber gambar dari sini
Bagaimanapun anak batita memang belum bisa mengungkapkan keinginan mereka secara verbal dengan baik, sehingga anak batita dan orang tua seringkali mengalami kesalahpahaman yang menyebabkan anak kemudian berulah, dan orang tua tak paham apa maksud sebenarnya yang ingin diutarakan sang anak. 

Namun, ada dua hal yang aku coba hindari saat kesal dan marah pada anak, yaitu hindari memukul dan mengeluarkan kata-kata yang tak pantas. Jika memang aku benar-benar sangat kesal dan marah, biasanya aku memilih diam atau menghindar sejenak dari anak. Itu lebih baik untuk meredam emosi :) 

Mudah-mudahan kita selalu sadar untuk memberikan contoh terbaik bagi anak-anak kita ya moms, aamiin.


PS : I TRULY DEEPLY LOVE YOU ALIA

Comments

  1. hehe iya, mak. aku kalo udah ngumpul sama adekku yang usianya 11 tahun juga kadang ada rasa gemes. kalo pas dia ngambek apalagi, sering kebawa emosi. moga makin bisa menjaga tingkah laku baik ya, mak. sama2 saling mendoakan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, apalagi kalau memang wataknya ga sabaran kaya saya, harus extra nahan emosinya :p
      Aamiin mak :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …