Skip to main content

Ya, Saya Seorang Single Mother

Waktu awal-awal saya baru aja bercerai, rasanya gak mauuu banget ada orang yang nyinggung-nyinggung soal ini dan bertanya-tanya pada saya seputar rumah tangga saya. Saya berusaha menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke sana. Pada saat itu saya merasa begitu risih bila harus membahas soal perceraian saya. Saya masih sering serba salah dan bingung akan apa yang harus saya ucapkan atau saya jawab.

Terutama, pada saat perceraian saya belum sah secara hukum. Saya seringkali harus berbohong pada orang lain mengenai perceraian saya. Saya kerap bersikap seolah rumah tangga saya baik-baik aja, padahal saya udah bercerai. Ini saya lakukan karena saya sendiri bingung dengan status saya yang menggantung kala itu. Dibilang bercerai kok masih tinggal di rumah mantan suami, tapi dibilang masih suami istri kok suaminya gak pernah ada di rumah. Saya benar-benar serba salah.

Akhirnya, saya memilih untuk menutupi perihal perceraian saya. Lagipula, kondisi batin saya saat baru-baru aja bercerai, memang belum sekuat saat ini. Ada sisi di mana batin saya kadang merasa belum siap 100 % untuk membahas perceraian. Saya butuh waktu beberapa bulan, sampai akhirnya saya merasa siap bicara pada orang-orang soal kondisi rumah tangga saya. 

Berangsur-angsur kondisi batin saya semakin tenang dan kuat. Terutama setelah saya sah bercerai secara hukum dengan mantan suami. Ada perasaan legaaa karena status saya gak lagi menggantung. Sampai akhirnya saya pindah kembali ke Cimahi -tempat dimana saya tinggal sebelum nikah- disinilah saya merasa lega luar biasa. Perlahan kondisi saya semakin baik, semakin baik, semakin baik, alhamdulillaah. 

Lama kelamaan mental saya merasa sangat siap dengan berbagai hal berkaitan dengan status saya sebagai single mother. Termasuk jika ada orang lain yang menyinggung soal perceraian, saya sama sekali gak risih jawabnya. Saya gak lagi merasa serba salah atau bingung menyikapi hal ini. Ya, saya seorang single mother, saya janda, dan saya pernah mengalami perceraian. Ini status yang memang melekat pada diri saya dan saya gak akan menutupinya. Saya gak minder dengan status saya. Saya yakin setiap orang memiliki jalan hidup dan takdir masing-masing :) 

Comments

  1. semua orang pasti melewati satu proses untuk mencapai titik kenyamanan ya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ada prosesnya yang bisa jadi gak mudah :)

      Delete
  2. perlahan waktu akan menyembuhkan rasa sakit dan kecewanya ya, mba. semoga selalu semangat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, alhamdulillaah :)
      Aamiin, makasiih..

      Delete
  3. Alhamdulillah... Bisa terlewati ya Mak, semoga Allah hindari dari orang- orang yang tidak faham akan qadarullah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, alhamdulillaah masa-masa itu udah lewat ;)
      Aamiin, makasiih..

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Teliti Saat Datang Ke Counter Service

Berkaitan dengan postinganku beberapa hari lalu tentang si BB yang bikin galau karena rusak, nah..alhamdulillaah kemaren BB ku sudah kembali beroperasi, kembali ribut dengan notifikasi beberapa menit sekali *saking eksisnya diriku, hihi..lebay*. 

Jadi  gini ceritanya, pas rusak beberapa hari lalu itu aku coba goggling untuk cari tau kira-kira apa penyebab BB ku rusak ga bisa di charge. Berdasarkan hasil goggling sih kayanya konektor charger BB ku yang rusak jadi dicharge ga bisa masuk (ga nyambung).

Aku putusin untuk bawa BB ku ke counter service BB di Cimahi Mall. Sampailah aku di salah satu counter, sebut saja counter A. Aku bilang BB ku ga bisa di charge, terus si penjaga counter tersebut memeriksa keadaan BB ku. Ga berapa lama kemudian, penjaga counter tersebut bilang kalau BB ku konektor chargernya rusak, dan harus diganti. Ahaaa, berarti hasil gogglingku tepat ^^ Ehh, beberapa menit kemudian si penjaga counter bilang lagi kalau batre BB ku juga rusak, katanya udah kembung.. ya ela…