Skip to main content

Bicara (Lagi) Tentang Perceraian (Bag. 1)

Sumber gambar dari sini




Sejujurnya saya prihatin dengan semakin banyaknya kasus perceraian dari waktu ke waktu. Saya gak bisa menilai apa yang salah dan siapa yang salah. Bisa jadi pihak istri, bisa jadi pihak suami, bisa jadi keduanya, atau bisa jadi juga ada gangguan dari pihak ketiga. Ya, semua bisa aja terjadi kan? Saya juga gak berani menjudge bahwa orang yang bercerai berarti bukanlah pasangan yang baik, karena bisa jadi itu ujian bagi mereka.

Ujian kehidupan berupa perceraian memang bukanlah ujian yang mudah dan menyenangkan. Saya selalu berfikir bahwa perceraian memang bukan aib, namun juga bukan sesuatu yang membanggakan. Malah saya sampai sekarang merasa bahwa perceraian adalah noda dalam hidup saya, yang membuat saya begitu menyadari betapa hidup saya dan diri saya jauh dari hampir sempurna. Hampir sempurna ya, bukan sempurna. Sebab mustahil ada yang sempurna di dunia ini.

Pernah ada beberapa orang yang bercerita pada saya soal rumah tangga. Di ujung cerita mereka, ada yang bertanya soal perceraian. Saya merasa berat untuk bicara tentang pandangan saya soal perceraian dalam rumah tangga orang lain. Saya khawatir salah memberi pandangan. Menurut saya perceraian bisa jadi solusi bagi sebagian permasalahan rumah tangga, namun bagi sebagian lagi perceraian bisa jadi bukan solusi terbaik. Perceraian bisa aja malah menambah permasalahan baru.

Saya merasa serba salah jika ada yang bercerita soal perempuan yang meminta cerai. Saya gak mengalami hal ini, jadi saya gak bisa kasih pandangan terlalu detail. Tapi yang saya tau, perempuan haram hukumnya meminta cerai pada suami, jika tak ada alasan yang kuat dan syar'i. Berbeda dengan lelaki, sekalipun tanpa alasan yang kuat dan syar'i, seorang suami bisa menceraikan istrinya dengan cara menjatuhkan talak pada istri. Suami yang seperti ini tentu dinilai sebagai suami yang zalim terhadap istri.

Bicara soal talak, saya juga pernah mendengar cerita rumah tangga di mana suami suka mengucap kata-kata cerai pada istri. Saya sangat menyayangkan lelaki yang seperti ini. Sebab perkataan cerai itu bukan perkataan yang sepele yang bisa begitu aja kita ucapkan saat kita emosi, saat suami bertengkar dengan istri, atau saat suami melihat keburukan istrinya. 

Bersambung...

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …