Skip to main content

Ingin Berubah? Tinggalkan Lingkungan yang Negatif

Lingkungan di sekitar, sedikit banyak ikut mempengaruhi cara berpikir ataupun tingkah laku kita. Tak masalah jika lingkungan tempat kita berada itu positif, sebab kita juga bisa terpengaruh oleh hal-hal yang positif. Bahayanya, jika lingkungan sekitar kita adalah lingkungan yang negatif, kita punya kecenderungan untuk ikut tertulari hal-hal yang negatif pula. 

Orang yang tak suka bergosip jika ia sering berada di lingkungan para penggosip, bisa jadi ia pun terpengaruh oleh lingkungan hingga kemudian menjadi penggosip juga. Seorang wanita yang sebenarnya tak hobi belanja, bisa jadi kecanduan belanja jika ia memiliki teman-teman  yang hobi belanja. Begitupun jika kita berada di lingkungan orang-orang yang suka berpikir negatif, kita punya kecenderungan untuk suka berpikir negatif juga. Dan masih banyak lagi contoh lainnya. 

Namun hal tersebut gak mutlak begitu ya, selama kita punya iman dan kepribadian yang kuat, di manapun kita berada, kita tak akan mudah terpengaruh. Tapi coba deh ingat-ingat lagi, apakah ada di antara sekian prilaku negatif kita yang sebenarnya diakibatkan oleh pengaruh lingkungan yang negatif? Lingkungan tersebut bisa keluarga, saudara, sahabat, teman kerja, atau tetangga. 

Jika jawabannya ada, maka cara untuk merubah prilaku negatif tersebut adalah dengan meninggalkan lingkungan yang negatif tersebut. Jika tak memungkinkan untuk meninggalkan, maka batasi interaksi kita atau setidaknya saat berada di lingkungan tersebut jauhi situasi yang menuju ke arah prilaku negatif itu. Misalnya, jika kita berada di lingkungan orang-orang yang suka bergosip, saat mereka mulai bergosip sebaiknya kita menjauh dari mereka (setidaknya untuk sementara), jika memang kita benar-benar tak bisa meninggalkan lingkungan tersebut. 


Sumber gambar : simplenewz.com

Intinya, jika ingin merubah prilaku negatif kita yang dipengaruhi oleh lingkungan, maka sebaiknya tinggalkan lingkungan yang negatif tersebut.




*Self reminder*

Comments

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …