Skip to main content

Tau Kapan Harus Berkata "I Give Up"

Sometimes, kata-kata never give up or don't give up menjadi tak berlaku lagi jika kita dihadapkan pada situasi permasalahan yang membuat kita benar-benar terjebak di dalamnya. Dalam arti, permasalahan tersebut sudah benar-benar seperti gunung es yang akan pecah. Kita tak mungkin memaksa maju. Lebih baik mundur meninggalkan gunung tersebut, bukan berarti kita kalah, takut, atau pengecut, namun ada saatnya kita harus mengatakan, "I give up", untuk memulai dari awal lagi sesuatu yang lebih baik.

Sumber gambar : justbestcovers.com

Tapi, kata-kata "I give up" hanya dikeluarkan pada sebuah situasi yang memang sudah mencapai titik maksimal dari usaha kita untuk memperbaikinya. Saat kita sudah berusaha sekuat tenaga serta mengorbankan banyak hal, namun takdir berjalan tak sesuai dengan harapan. Ada hal-hal yang tak bisa kita paksakan. Pada saat seperti itulah kita harus membuat keputusan, dan berkata "I give up".

"I give up", bukan berarti benar-benar menyerah untuk kemudian kita terjatuh dan kehilangan semangat. Give up di sini, artinya berhenti dari satu keadaan yang bisa jadi memang tak baik untuk kita teruskan, justru kita bisa memulai sesuatu yang lebih baik dari awal lagi setelahnya. 

Saat sebuah hubungan benar-benar tak baik untuk dipersatukan, bisa jadi perpisahan adalah yang terbaik. Atau saat usaha yang kita jalankan benar-benar tak mengalami kemajuan, bahkan kemunduran, bisa jadi berhenti dari usaha itu kemudian memulai usaha lain dari awal lagi, adalah yang terbaik. Itu sebabnya, kita perlu tau kapan saatnya harus berkata "I give up". Menyerah atau berhenti di saat yang tepat, bukanlah hal yang buruk. 

Comments

  1. give up karena lelah maksimum, boleh ya Mba..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Give up di sini bukan karena lelah mak, tapi karena memang perlu untuk dilakukan dan beralih ke keadaan yg lebih baik :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …