Skip to main content

Bukan Hanya Memakmurkan Diri Sendiri

Kekayaan bisa menjadi keuntungan, namun bisa juga menjadi kerugian bagi pemiliknya. Akan menjadi keuntungan bila kekayaan itu bermanfaat untuk diri kita dan orang lain. Kekayaan yang bermanfaat untuk diri kita, yaitu kekayaan yang membuat kita selalu ingat untuk bersyukur, berbagi dengan orang lain, dan membuat kita semakin dekat dengan Allah, Sang Pemberi Kekayaan. 

Dalam kekayaan yang kita miliki, ada hak orang lain di dalamnya. Ingatlah, ada ketentuan zakat, infaq, dan sedekah dalam Islam. Sebaiknya kekayaan yang kita miliki bukan hanya untuk memakmurkan diri sendiri, tapi yang lebih penting adalah memakmurkan orang lain, yaitu dengan banyak berbagi. Semakin banyak kita diberi oleh Allah, sebaiknya semakin banyak pula yang kita berikan pada orang lain. 

Kalau setiap orang yang diberi kekayaan berlimpah bisa berpikir demikian, sepertinya tak akan ada kesenjangan sosial. Sebab orang yang diberi kekayaan banyak, tak akan menumpuk-numpuk kekayaannya dan memperkaya diri sendiri, tapi justru mereka ingin semakin banyak memberi dan membantu memakmurkan orang lain yang kekurangan. 

Adapun kekayaan yang merugikan adalah kekayaan yang menjadikan pemiliknya lalai dari ketentuan Allah. Semakin kaya kita justru semakin sibuk menghambur-hamburkan harta demi kesenangan duniawi. Kekayaan yang kita miliki hanya dipergunakan untuk memakmurkan diri sendiri, sedangkan untuk kepentingan orang lain kita hanya memberi sekadarnya. Kekayaan bisa menjadi kerugian saat kekayaan tersebut lekat dengan kemubadziran, pemborosan, bahkan kekikiran. 

Sumber gambar : bekasibusiness.com

Kekayaan bukanlah sebuah keberuntungan selama kekayaan itu tak menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya. Kekayaan yang sesungguhnya adalah saat kita selalu merasa cukup dengan pemberian-Nya dan selalu bisa berbagi dengan orang lain, dalam keadaan apapun.




*Self reminder*

Comments

  1. Kekayaan bukanlah sebuah keberuntungan selama kekayaan itu tak menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya.

    Beneeeeeer banget :)

    ReplyDelete
  2. semoga kita tidak lupa diri ya dgn ujian kekayaan dari Allah...Sesungguhnya ujian dalam bentuk materi itu sangat berat...Mudah sekali menggelincirkan diri dari kesombongan. Yg lebih parah, kesombongan yg menandingin Tuhan. Na'udzubillah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin mbak. Iya, bisa jadi lebih berat dibanding ujian berupa kekurangan harta.

      Delete
  3. Kekayaan itu ujian...ada yg lulus dan tidak dgn ujian ini.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …