Skip to main content

Jangan Beri Harapan Palsu, Bersikap Tegaslah!

Saat ada seseorang yang menyukai kita atau bahkan mencintai kita, tentu tak selalu pula kita merasakan hal yang sama dengan yang orang lain rasakan. Kita memang tak bisa mengontrol perasaan orang lain terhadap kita. Itu hak setiap orang untuk memiliki perasaan suka, benci, atau apapun. Yang bisa kita lakukan adalah mengontrol sikap kita terhadap orang lain. 

Nah, saat orang yang menyukai kita tersebut menyatakan perasaannya pada kita, di sinilah mulai muncul dilema. Terutama jika kita tak memiliki perasaan yang sama, apalagi jika ternyata orang tersebut memiliki hubungan yang baik dan cukup dekat dengan kita, Apakah dia teman kerja, saudaranya sahabat kita, atau memang orang itu adalah sahabat kita sendiri. 

Biasanya muncul perasaan bingung, karena kita tak tega kalau harus menolak secara langsung dan menyatakan kalau kita tak punya perasaan suka padanya. Akhirnya, sebagian orang memilih menggantungkan jawaban, dengan tak menyatakan iya juga tak mengatakan tidak. Tapi, hal seperti itu justru bisa dikategorikan sebagai pemberi harapan palsu. 

Karena dengan jawaban yang berada di wilayah ragu-ragu antara ya dan tidak seperti itu, membuat si penerima jawaban seolah masih diberi harapan, karena dia berfikir bisa jadi kita juga menyukainya dan mau menerimanya, meski sebenarnya hati kita benar-benar tak menyukainya dan tak bisa menerimanya. Kalau saya pribadi, lebih memilih bersikap tegas dengan menyatakan apa adanya. Saya rasa jujur lebih baik meski pada awalnya bisa jadi cukup menyakitkan. Tapi setidaknya kita tak bermain-main dengan perasaan orang lain. Dengan mereka menyatakan perasaan sukanya pada kita, itu merupakan sebuah kejujuran, yang sebaiknya dibalas pula dengan kejujuran.

Selama kita menyatakan kejujuran dengan santun, tak menggunakan kata-kata atau sikap yang menyakiti, insya Allah orang lain akan mengerti dengan baik pula. Bersikap tegas artinya kita menyatakan dengan jujur dan jelas saat kita ingin berkata tidak atau iya. Jangan beri harapan palsu.


Sumber gambar : talkmen.com

Comments

  1. Kalo udah nikah gini masih naruh harapan ma kita, itu sih namanya terlalu ya mak..hehe

    ReplyDelete
  2. "Itu merupakan sebuah kejujuran, yang sebaiknya dibalas pula dengan kejujuran", jadi good quotes yang ini mbak. Temenku punya problem kayak begini nih mbak, bahkan udah 3 tahun ditunggu seseorang tapi dia sendiri sama sekali gak suka. Tulisan bisa jadi masukan buat dia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau menurut saya sih tegas lebih baik, buat kedua belah pihak :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …