Skip to main content

Mengukur Kesuksesan Dari Berapa Banyak yang Kita Berikan

Sudah benarkah cara kita mengukur sebuah kesuksesan? Sebagian orang menjadikan banyaknya harta yang dimiliki sebagai tolok ukur sebuah kesuksesan. Seorang milyarder pastilah dikatakan sebagai orang yang sukses. Ya, memang benar. Mereka sukses secara materi. Namun sebenarnya, cara yang lebih tepat untuk mengukur sebuah kesuksesan, bukan dari berapa banyak yang kita miliki, tapi dari berapa banyak yang telah kita berikan pada orang lain, lingkungan sekitar kita, dan pada dunia.


Sumber gambar : hutantropis.com

Jika kita mengukur keberhasilan dari berapa banyak yang telah kita berikan pada orang lain, ini bisa menjauhkan diri kita dari rasa tamak, dan sibuk memperkaya diri sendiri. Sebaliknya, tolok ukur itu membuat kita terpacu untuk memakmurkan orang lain. Dengan cara berbagi, menolong, serta memberikan kesempatan pada orang lain untuk bisa sukses juga. 

Kesuksesan yang abadi bukanlah kesuksesan yang hanya didapatkan di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Apa yang telah kita berikan pada orang lain, bisa jadi tabungan amal kita untuk di akhirat. Semakin banyak yang kita berikan pada orang lain, insya Allah semakin banyak pula tabungan akhirat kita.

Sukseslah dengan banyak memberi, bukan dengan banyak memiliki. Raihlah kesuksesan bukan hanya untuk dunia kita, tapi juga untuk akhirat kita. Inilah kesuksesan yang sebenarnya. Sukses dengan banyak memberi. Jadi, perbaikilah cara kita mengukur sebuah kesuksesan :) 




*Self reminder*

Comments

  1. Sukses menurut Allah, pasti sukses menurut manusia juga yaa... Semoga kita bisa dapetin yaa...:)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Teliti Saat Datang Ke Counter Service

Berkaitan dengan postinganku beberapa hari lalu tentang si BB yang bikin galau karena rusak, nah..alhamdulillaah kemaren BB ku sudah kembali beroperasi, kembali ribut dengan notifikasi beberapa menit sekali *saking eksisnya diriku, hihi..lebay*. 

Jadi  gini ceritanya, pas rusak beberapa hari lalu itu aku coba goggling untuk cari tau kira-kira apa penyebab BB ku rusak ga bisa di charge. Berdasarkan hasil goggling sih kayanya konektor charger BB ku yang rusak jadi dicharge ga bisa masuk (ga nyambung).

Aku putusin untuk bawa BB ku ke counter service BB di Cimahi Mall. Sampailah aku di salah satu counter, sebut saja counter A. Aku bilang BB ku ga bisa di charge, terus si penjaga counter tersebut memeriksa keadaan BB ku. Ga berapa lama kemudian, penjaga counter tersebut bilang kalau BB ku konektor chargernya rusak, dan harus diganti. Ahaaa, berarti hasil gogglingku tepat ^^ Ehh, beberapa menit kemudian si penjaga counter bilang lagi kalau batre BB ku juga rusak, katanya udah kembung.. ya ela…