Skip to main content

Pendengar yang Baik

Menurut saya menjadi pendengar yang baik, lebih sulit dibanding jadi pembicara yang baik. Buktinya, kalau kita ingin jadi pembicara yang baik, kita bisa menemukan orang-orang yang bisa mengajari kita untuk itu. Kita bisa menemukannya di lembaga kursus atau pendidikan yang mengajarkan public speaking. Tapi, saya belum pernah dengar ada orang-orang atau lembaga pendidikan yang bisa mengajarkan kita bagaimana jadi pendengar yang baik.

Saya kadang merasa, pendengar yang baik termasuk sebuah karunia, di mana hanya orang-orang tertentulah yang benar-benar memilikinya. Mendengarkan memang mudah, namun mendengarkan sepenuh hati dan menghadirkan hati serta pikiran saat kita sedang mendengarkan orang lain bukanlah hal yang mudah. Itu sebabnya banyak orang yang suka memotong pembicaraan orang lain, kurang menghargai pendapat orang lain, dan merasa dirinya yang lebih baik dan benar.

Tak semua orang yang sedang mendengar pembicaraan kita, benar-benar mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Ada yang hanya sekadar mendengar namun tak mencoba memahami dan tak sungguh-sungguh menghadirkan hatinya saat mendengarkan. 

Untuk menjadi pendengar yang baik dibutuhkan kesabaran, kerendahan hati, perasaan menghargai orang lain, serta kebaikan hati. Bisa jadi pendengar yang baik tak lebih banyak jumlahnya dibanding pembicara yang baik. Sebab, menjadi pendengar yang baik bukan soal teori tapi soal perasaan, soal hati. 

Sumber gambar : keluarga.com

"Lebih banyak mendengarkan lebih baik dibanding banyak berbicara tapi tak bermanfaat."




*Self reminder*

Comments

  1. Bener banget Mbak.... Jarang ada orang yg bisa mendengarkan cerita kita sepenuh hati, padahal bagi kita cerita itu kadang sangat berarti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, gak banyak orang yang benar2 jadi pendengar yang baik :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Teliti Saat Datang Ke Counter Service

Berkaitan dengan postinganku beberapa hari lalu tentang si BB yang bikin galau karena rusak, nah..alhamdulillaah kemaren BB ku sudah kembali beroperasi, kembali ribut dengan notifikasi beberapa menit sekali *saking eksisnya diriku, hihi..lebay*. 

Jadi  gini ceritanya, pas rusak beberapa hari lalu itu aku coba goggling untuk cari tau kira-kira apa penyebab BB ku rusak ga bisa di charge. Berdasarkan hasil goggling sih kayanya konektor charger BB ku yang rusak jadi dicharge ga bisa masuk (ga nyambung).

Aku putusin untuk bawa BB ku ke counter service BB di Cimahi Mall. Sampailah aku di salah satu counter, sebut saja counter A. Aku bilang BB ku ga bisa di charge, terus si penjaga counter tersebut memeriksa keadaan BB ku. Ga berapa lama kemudian, penjaga counter tersebut bilang kalau BB ku konektor chargernya rusak, dan harus diganti. Ahaaa, berarti hasil gogglingku tepat ^^ Ehh, beberapa menit kemudian si penjaga counter bilang lagi kalau batre BB ku juga rusak, katanya udah kembung.. ya ela…