Skip to main content

Sebelum Teguran Itu Datang

Sebagai manusia, kita memang mudah lupa dan lalai. Kecuali mereka yang imannya kokoh, yang lebih bisa menjaga diri mereka. Tapi, yang imannya seperti saya, yang masih sering naik turun, naiknya jarang turunnya sering, naik sedikit, eh..turunnya banyak :p Seringkali saya merasa begitu mudah lupa untuk mengamalkan hal-hal yang baik, serta lupa menjauhkan diri dari perbuatan yang buruk. Karena "lupa" inilah, saya lebih mudah lalai. Padahal banyak dari kelalaian saya, yang saya lakukan secara sadar. Di mana saya tau bahwa itu tak baik, tapi saya lakukan juga :'(

Apakah ada di antara kalian yang merasa seperti itu juga? Mudah-mudahan kalian semua jauh lebih baik dari saya, aamiin. Ya, tapi kita memang kerap baru sadar betapa nikmatnya kesehatan setelah kita diberi sakit, kita baru merasakan betapa berartinya seseorang setelah ia meninggalkan kita, kita juga baru sadar betapa berharganya segala harta benda yang kita miliki setelah kita kehilangannya. Dan, kita kerap baru sadar akan dosa-dosa yang kita perbuat, setelah kita diberi teguran dari Allah. Apakah berupa penyakit, kejadian buruk, ataupun kejadian lainnya yang membuat kita merasa di titik nol.


Sumber gambar : gopixpic.com

Tapi kita harus bersyukur, jika ternyata dengan adanya teguran tersebut, justru membuat kita jadi introspeksi diri. Dan teguran tersebut menyadarkan kita untuk kembali ke jalan yang benar dan bertaubat dari dosa-dosa yang kita perbuat. Bersyukurlah jika dalam teguran itu, kita masih diberi kesempatan untuk introspeksi dan bertaubat. Sebab jika teguran itu berupa kematian, tak ada lagi waktu bagi kita untuk introspeksi diri atau bertaubat. Na'udzzubillahi min dzalik.

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang banyak mengingat-Nya, kita mampu mensyukuri segala pemberian-Nya, menjalankan segala perintah-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya, aamiin.


*Self reminder*

Comments

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …