Skip to main content

Mengajarkan Definisi Kesuksesan Pada Anak

Banyak orang yang memiliki pandangan yang tidak tepat mengenai arti kesuksesan yang sesungguhnya. Kebanyakan orang memang memandang kesuksesan lebih kepada banyaknya harta yang dimiliki seseorang, tingginya jabatan, atau seberapa besar popularitasnya. Pandangan seperti ini seolah memang telah terpatri di banyak benak manusia. Ini seperti sebuah rantai yang harus diputuskan, karena jika tak demikian, pandangan seperti ini akan terus melekat di pikiran manusia. 


Sumber gambar : bbc.co.uk

Maka dari itu, sebaiknya kita sebagai orangtua mengajarkan definisi kesuksesan pada anak sedini mungkin, dengan definisi yang tepat. Jarang sekali ada orang yang minim harta kekayaan namun ia diberi predikat sukses. Padahal, bisa jadi sebenarnya orang seperti inilah yang sukses, jika ternyata harta yang ia miliki selalu ia manfaatkan untuk menolong orang lain, sehingga ia tak pernah memperkaya dirinya. Ia menggunakan hartanya untuk bersedekah di jalan Allah.

Ajarkan pada anak definisi kesuksesan yang tepat, yaitu sukses yang bukan dilihat dari apa yang kita miliki, apakah jabatan, status sosial, harta kekayaan, dan lain-lain. Tapi lebih kepada apa yang telah kita perbuat untuk orang lain. Sukses yang sebenarnya adalah dengan menjadi pribadi yang shaleh atau shalehah, dan mampu memberi manfaat bagi orang banyak. Sukses itu bukan hanya untuk kepentingan di dunia, tapi juga di akhirat. Di antara jalan untuk kita bisa sukses di dunia dan juga akhirat, yaitu dengan banyak berbuat baik, banyak bersedekah, banyak memberi manfaat. Namun hal ini juga harus diiringi dengan akhlak kita terhadap Allah, dengan menjaga kedekatan kita pada-Nya, dan menjadi pribadi shaleh atau shalehah.

Comments

  1. Setujuuu. Kadang kita lupa mengajarkan hal sederhana ini yaa. Padahal ini konsep penting yang harus dipahami anak, agar mereka tidak punya keyakinan yang salah ttg sukses. Sekali salah mengartikan berakibat pada kesalahan tindakan. Bisa jadi pemicu maraknya korupsi akibat kesalahan "ukuran" sukses ini *cmiiw

    ReplyDelete
  2. Beneeer, jangan orientasinya dunia aja yah Mak, tapi akhirat :)

    ReplyDelete
  3. Kalau kata Jamil Azzaini sukses itu harus mulia, ya. Mulia dunia dan akherat, jadi ngajak orang lain juga menikmati kesuksesan kita.

    ReplyDelete
  4. iya, stuju m tapi kebanyakan orang mengukur sukses dari harta..

    ReplyDelete
  5. iya mbak sedikit demi sedikit saya juga menanamkan hal ini kepada anak-anak, orang bermobil belum tentu lebih sukses dari orang yang naik motor :D

    ReplyDelete
  6. Ini PR banget nget nget buat saya.
    Bismillah, semoga ALLAH selalu beri kemudahan dan petunjuk buat kita semua ya Mak.
    bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …