Skip to main content

Relaksasi Dengan Mengosongkan Pikiran

Di zaman seperti sekarang ini, siapa yang tak pernah mengalami stress. Di mana kemajuan teknologi membuat kita begitu mudah menerima informasi-informasi yang negatif, apakah dari televisi, radio, hingga jejaring sosial yang kita akses setiap hari. Persaingan hidup juga semakin ketat, baik di bidang pekerjaan, pendidikan, hingga percintaan, yang membuat tindakan kejahatan semakin marak. 

Bukan hanya itu, faktor makanan juga menjadi faktor pemicu stress yang seringkali kita abaikan. Saat ini, betapa sulitnya mencari penjual makanan yang betul-betul menjual makanan sehat, dengan harga terjangkau. Begitu banyaknya praktik-praktik curang para pedagang, demi mencapai keuntungan yang tinggi. Mengkonsumsi makanan tak sehat bukan hanya bisa mengotori kesehatan fisik, tapi juga psikologis kita (menjadi mudah stress).

Kita bisa menghindari stress dan kita pun bisa mengatasinya. Keduanya, sama-sama bukanlah hal yang mudah. Tapi, mengatasi stress lebih sulit dibanding menghindarinya. Maka, sebisa mungkin hindari faktor-faktor pemicu stress agar kita sehat secara menyeluruh (tak hanya sehat fisik, tapi juga mental, emosional, dan spiritual).


Sumber gambar : apps.microsoft.com

Salah satu cara mudah yang bisa kita lakukan untuk mengurangi stress adalah dengan relaksasi. Saat stress, otot-otot kita menjadi tegang dan kaku, hal ini dipicu dari pikiran-pikiran negatif yang kita rasakan, seperti rasa cemas, tertekan, ataupun rasa takut. Relaksasi ini bertujuan untuk melepaskan ketegangan, mengendurkan otot-otot, serta menghilangkan kecemasan akibat stress. 

Ada berbagai macam cara yang bisa kita lakukan untuk relaksasi. Dari mulai yang gratis, sampai yang mengeluarkan biaya banyak (misal : liburan). Cara relaksasi paling mudah dan gratis, yaitu dengan mengosongkan pikiran. Ambil posisi yang santai, bisa duduk, ataupun berbaring. Kemudian pejamkan mata. Tenangkan pikiran kita, lalu berusahalah untuk mengosongkan pikiran kita. Setelah itu, diamlah selama beberapa menit, sambil menarik napas dalam secara perlahan-lahan (keluarkan melalui mulut), lakukan berulang-ulang. 

Cobalah untuk mempraktekannya beberapa kali sehari, atau saat kita merasa membutuhkan ketenangan. Bisa juga, saat kita mengosongkan pikiran, kita mengisinya dengan kalimat sugesti positif atau dzikir. Awalnya memang tak mudah untuk bisa mengosongkan pikiran, apalagi jika kita memang betul-betul sedang stress. Tapi, jika dilatih, insya Allah pasti bisa, kok :)




*Self reminder*

Comments

  1. aku paling suka yoga...dan tenang di pinggir pantai :)...relaksasi yang paling ampuh buatku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga pengen belajar yoga mak, tapi malas kalau sendirian :p hihi..

      Delete
  2. Nah ini... aku sepertinya harus belajar banyak agar bisa mengosongkan pikiran.
    Kayaknya emang perlu yaa... apalagi jika aku sedang jenuh banget dg urusan pekerjaan kantor

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …