Skip to main content

7 Kondisi yang Kerap Memicu Kemarahan

Di balik sebuah kemarahan, pasti ada faktor pemicunya. Meski kadang-kadang kita berpikir, "Nih, orang kenapa sih marah-marah gak jelas", "Gak ada angin gak ada ujan, eh..dia marah-marah", dan semacamnya. Marah itu merupakan akibat, dan yang paling tau apa penyebabnya, ya orang yang sedang marah tersebut, orang lain seringkali gagal paham (tak mengerti).

Ada banyak faktor yang bisa memicu kemarahan seseorang. Di sini saya akan bahas beberapa faktor tersebut. Dengan begitu, setidaknya kita bisa sedikit memahami alasan di balik sebuah kemarahan. Dan juga kita bisa mencoba untuk menghindari faktor-faktor berikut, yang bisa mencegah kita dari kemarahan. Ayo, disimak :)

1.  Stress

Saat kita sedang stress, pikiran kita diisi dengan berbagai hal yang tak menyenangkan, yang membuat kita tak bisa berpikir jernih. Hal inilah yang menyebabkan kita menjadi lebih mudah marah.

2.  Lapar


Sumber gambar : duniafitnes.com



Saat perut kita kosong, kita menjadi lebih mudah marah. Coba perhatikan deh saat kita lapar, kita jadi lebih sulit mengendalikan nafsu, misal : jadi mudah tergoda makan makanan yang tak seharusnya kita makan (tak sehat), jadi makan lebih banyak dan terburu-buru melahap makanan, dan lapar juga berpengaruh pada emosi kita, yaitu kita jadi lebih mudah marah, disebabkan karena tak bisa mengendalikan nafsu.

3.  Cemas

Rasa cemas bisa membuat kita merasa tak tenang, yang mengakibatkan kita jadi mudah marah. Rasa cemas ini bisa timbul karena kita terlalu mengkhawatirkan sesuatu, terlalu takut, atau panik akan suatu hal.

4.  Lelah

Kondisi fisik yang lelah juga bisa membuat kita menjadi mudah marah. Sebab saat lelah, kita sedang berada dalam kondisi yang tak nyaman dan relaks.

5.  Negative thinking

Pikiran negatif memang selalu merugikan kita, salah satunya yaitu dapat memicu kemarahan. Misalnya, saat kita merasa tersinggung, merasa tersaingi, ataupun saat kita merasa direndahkan. Padahal semua perasaan tersebut awalnya dari pikiran kita sendiri yang negatif. Pikiran negatif tersebut menimbulkan perasaan-perasaan negatif, yang akhirnya bisa membuat kita jadi mudah marah.


6.  Sakit

Saat sakit, seringkali bukan hanya fisik kita yang menjadi lemah, tapi juga hati dan pikiran kita. Inilah yang bisa membuat kita jadi lebih mudah terpancing emosi. Saat sakit, emosi kita menjadi kurang stabil.

7.  Sensitif

Terakhir, saat kita sedang sensitif, yang biasanya kerap dipengaruhi oleh hormon. Misal : saat wanita sedang hamil, atau sedang menstruasi. Di saat ini, wanita cenderung lebih mudah emosi. 

Nah, point mana yang sering memicu kemarahanmu? 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …