Skip to main content

Hapus Kata 'Gagal' dari Kamus Kehidupanmu

Kata gagal sering diidentikkan dengan pengertian jatuh, bangkrut, kalah, ataupun yang semacamnya. Pokoknya, diserupakan dengan kata-kata yang mengarah pada makna negatif. Maka dari itu, ketika kita menyebut kata gagal, bisa menimbulkan rasa pesimis, sedih, atau takut. Sehingga menyebabkan kita jadi takut akan kegagalan, dan berusaha menghindarinya dengan cara tak mau mencoba sesuatu, karena tak mau mengambil risiko berupa kegagalan.

Sumber gambar : thehometownnewsonline.com




Sebenarnya, tak perlu ada kata gagal dalam kamus kehidupan kita, apalagi jika kata gagal kita maknai sebagai kata yang negatif. Saat kita tak berhasil melakukan sesuatu jangan sebut dan anggap hal itu sebagai kegagalan. Di sini, kita harus mengubah pikiran kita atau cara pandang kita. Anggaplah ketidakberhasilan sebagai sebuah kesempatan untuk belajar demi mendapat hasil yang lebih baik. 


Ketidakberhasilan merupakan kesempatan bagi kita, untuk memulai sesuatu dari awal lagi dengan lebih baik. Ini juga merupakan kesempatan untuk kita berusaha menemukan cara yang lebih baik dari sebelumnya, dalam melakukan sesuatu. Sehingga hasil yang kita peroleh nantinya, bisa lebih besar dan lebih baik dari apa yang kita harapkan. 

Banyak hal yang bisa kita jadikan pembelajaran dari sebuah ketidakberhasilan, yang pada akhirnya semua itu bisa menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya. Jadi, jangan berpikir bahwa ketidakberhasilan adalah sesuatu yang negatif. Selama kita bisa menjadikannya sebuah proses belajar, maka hal tersebut menjadi positif. 

Mulai sekarang, tak ada lagi kata gagal, yang ada adalah kesempatan untuk belajar. Saat kita tak berhasil melakukan sesuatu, itu bukanlah akhir dari sesuatu, melainkan sebuah awal untuk membuka peluang yang lebih baik dari sebelumnya. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengubah sudut pandang kita, mengenai ketidakberhasilan. Hapus kata gagal dari kamus kehidupan kita, dan ganti dengan kesempatan :) 




*Self reminder*

Comments

  1. Terimakasih banget ... jadi punya bekal buat mengubah cara fikir yaa, hanya dengan mengubah kata-kata yang semula dianggap sepele, tapi pengaruhnya besar. Kegagalan menjadi "Kesempatan"

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …