Skip to main content

Ingin Hidupmu Berubah Lebih Baik? Evaluasi Keburukanmu

Kebaikan dan keburukan seolah menjadi satu paket dalam diri kita yang tak terpisahkan. Saya, kamu, kita semua memilikinya dalam diri kita. Hanya saja tiap-tiap orang memiliki kekuatan hati serta spiritual yang berbeda-beda. Kekuatan hati serta spiritual inilah, yang kemudian menentukan apakah kebaikan atau keburukan yang lebih banyak mendominasi diri kita.

Kebaikan adalah sikap-sikap baik dalam diri kita yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain. Sedangkan keburukan adalah kebalikannya, yaitu sikap-sikap buruk dalam diri kita yang merugikan diri kita dan juga orang lain. Kebaikan dan keburukan bukanlah sikap bawaan yang kita miliki sejak lahir. Sehingga dari keduanya tak ada yang tak bisa berubah

Kebaikan dan keburukan yang kita miliki tak akan mempengaruhi baik atau buruknya masa depan kita. Yang menentukan baik atau buruknya masa depan kita, adalah sikap kita sendiri dalam menyikapi kebaikan dan keburukan dalam diri kita. Sebab pada dasarnya setiap manusia pasti punya kecenderungan untuk bersikap baik dan buruk, tapi kita selalu punya pilihan atas apa yang kita lakukan

Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk merubah hidup kita menjadi lebih baik, yaitu dengan mengevaluasi keburukan kita. Keburukan itu merugikan bukan? Maka hilangkan kerugian itu, kemudian rubahlah menjadi sebuah keuntungan / manfaat. yaitu kebaikan. Berikut ini tahapan yang bisa kita lakukan dalam mengevaluasi keburukan untuk menghilangkan kerugian dalam diri kita : 

1.  Tuliskan keburukan yang kita miliki

Hal pertama, yaitu ketahui dan sadari apa saja keburukan kita. Kalau perlu, kita bisa bertanya pada orang-orang di sekitar kita, apa saja keburukan kita yang mengganggu atau merugikan mereka. Tuliskan semuanya dengan jujur.

2.  Tuliskan apa saja kerugian yang kita peroleh dari keburukan yang kita miliki

Setelah kita menulis apa saja keburukan kita, setelahnya tulislah kerugian-kerugian dari masing-masing keburukan kita itu. Di sini juga kita bisa minta orang-orang di sekitar kita untuk membantu, yaitu dengan memberitahu kita apa saja kerugian yang mereka rasakan dari keburukan kita. (Kamu bisa bertanya pada keluarga di rumah atau sahabat dekat).

3.  Tuliskan alasan mengapa kita harus berubah

Sumber gambar : shutterstock.com



Lalu, tuliskan alasan-alasan kuat mengapa kita harus berubah. Semakin kuat dan banyak alasan yang kita miliki, maka semakin bagus. Tiap keburukan beri alasan masing-masing.

4.  Bagaimana cara merubahnya

Tuliskan bagaimana cara yang akan kita lakukan untuk merubah keburukan-keburukan itu. Ini bisa kamu dapatkan dari berbagai sumber, seperti buku, internet, maupun orang-orang telah berhasil merubah keburukan tersebut pada dirinya. 

5.  Do it (lakukan)!

Ini tahapan terakhir, namun paling penting, yaitu lakukan! Ya, evaluasi tak akan ada arti dan hasilnya tanpa sebuah pelaksanaan. Maka lakukan tahapan nomor 4, segera setelah kita menuliskannya. Lakukan dengan konsisten, meski secara perlahan atau sedikit-sedikit.

Baiklah, silahkan dicoba dan semoga berhasil ya :)




*Self reminder*

Comments

  1. trims tulisannya mak....salam kenal dari pekalongan

    ReplyDelete
  2. Nice share..
    Alhamdulillah saya sudah melakukan tahapan-tahapan diatas, untuk poin nomor 1 dan 2 biasanya yang ditanyai ada perasaan "ga enak" kalo harus (langsung) menyebutkan keburukan kita (kecuali kalau memang sudah jengah) hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, cari orang yang mau benar2 jujur dan terbuka mbak :)

      Delete
  3. Jangan lupa berdoa semoga dimudahkan. :)

    ReplyDelete
  4. Harus dievaluasi ya, Mak. Biar lebih baik lagi. :)

    ReplyDelete
  5. Yups betuul..tp sayang sedikit sekali yg mau mengevaluasi diri...tfs :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …