Skip to main content

Jangan Fokuskan Bisnis Hanya Pada Uang

Sumber gambar : slickdollars.com



Yang namanya bisnis, ya pastinya memang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan materi. Sebagian besar bisnis tujuan utamanya adalah uang. Bagus dong, karena bisnis atau berdagang merupakan jalan untuk mencari rezeki yang memang sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam serta Khadijah radiallahu anha, juga merupakan pebisnis yang sukses pada masanya.

Tapi kita sebaiknya berhati-hati, jangan memfokuskan bisnis hanya untuk kepentingan materi semata. Fokus utama dari sebuah bisnis itu sebenarnya bukan uang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbisnis dengan tujuan ibadah. Ibadah artinya bisnis yang kita lakukan harus menjadi ladang amal kebaikan bagi kita. 

Berbisnis juga menjadi ujian bagi kita untuk mengukur seberapa kuat sikap tawakkal (berserah diri) kita terhadap Allah. Karena dalam berbisnis pasti ada turun naiknya, ada kalanya bisnis yang kita jalankan lancar, dan ada kalanya juga bisnis yang kita jalankan mengalami sepi pesanan, penurunan laba, atau bahkan kebangkrutan. 

Nah, di kala bisnis sedang mengalami penurunan inilah, ujian terasa sangat berat, Kalau kita sebagai pebisnis tak memiliki iman yang kuat, keadaan itu bisa jadi menjerumuskan kita pada cara-cara yang tak jujur, tak halal, serta tak berkah. Karena yang ada dalam pikiran kita, hanya bagaimana mencari keuntungan materi dari bisnis tersebut. 

Pada saat bisnis sedang mengalami penurunan, di sini juga ketawakkalan kita diuji. Seberapa kuat kita bisa tetap berada di jalan yang benar dalam menjalankan bisnis, meski keuntungan yang kita peroleh tak membuat kita merasa cukup. 

Jika kita terlalu memfokuskan bisnis pada uang, ini akan membuat kita mengabaikan hal-hal lainnya yang justru lebih penting, yaitu menjadikan bisnis sebagai ibadah. Jika kita ingin bisnis yang kita lakukan bernilai ibadah, maka kita harus menempuh jalan / cara yang sesuai dengan ajaran Islam dalam menjalankannya. 

Comments

  1. waktu belajar ekonomi, pebisnis itu harus risk taker, bisa mengambil segala resiko khsususnya yg terburuk. enak memang ya mak jd karyawan bisa dapat gaji tetap. kalo pebisnis kalo sukses pendapatannya bisa jauh lbh besar dan bisa memberi lapangan kerja ya...tp di atas semua itu yg penting berkah ya.. (

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, point terpenting : dapat berkah :)

      Delete
  2. Terlebih kalau bisnisnya merupakan solusi untuk permasalahan publik, kayaknya bakal kerasa barokahnya... Saya juga berkeinginan untuk berbisnis, namun itu dia, belum siap buat take a risk :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, siap bisnis berarti siap juga sama risikonya :)

      Delete
  3. Reminder buat eike nih mak. Semoga istiqomah.. aamiin

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …