Skip to main content

Kerugian dari 'Kebohongan Kecil' yang Jadi Kebiasaan

Sumber gambar : blogs.disney.com



Rasanya, setiap hari kita tak terlepas dari yang namanya kebohongan kecil. Kebohongan kecil merupakan kebohongan yang seringkali kita sendiripun tak menyadari bahwa hal tersebut adalah kebohongan. 

Misalnya : saat anak kita nangis, kita menghiburnya dengan mengatakan "Udah sayang, berhenti nangisnya, nanti siang mama beliin es krim", saat kontak dengan teman lama, kita bilang "Iya nanti kalau minggu depan aku ke sana, aku sekalian mampir ke rumahmu, ya", ataupun ucapan kita terhadap pasangan "Iya, nanti sore aku telfon kamu lagi ya, sayang", tapi semua perkataan tersebut tak direalisasikan. 

Itu hanya sebagian contoh kebohongan kecil yang bisa jadi sering kita lakukan. Di luar itu, masih banyak contoh lainnya, yang bukan hanya kita lakukan terhadap anak, pasangan, saudara, teman, orang-orang di lingkungan kita bekerja (misal : pimpinan, klien, pelanggan), hingga terhadap orang yang baru kita kenal sekalipun. Wah, kalau kebohongan kecil ini selalu kita anggap sepele, dan kemudian terjadi terus menerus hingga berubah jadi kebiasaan, bisa merugikan juga, lho. Ini beberapa kerugian dari kebohongan kecil yang jadi kebiasaan : 

1.  Tak sungguh-sungguh dalam bicara 

Kalau kita terbiasa melakukan kebohongan kecil, ini membuat kita berbicara tapi sebenarnya tak sungguh-sungguh atau tak serius dengan apa yang kita ucapkan. Kita seolah menganggap 'enteng' perkataan "Iya, nanti", "Besok, ya", atau bahkan ucapan "Insya Allah, ya". Padahal ucapan-ucapan tersebut termasuk janji, yang seharusnya kita ucapkan dengan serius dan kemudian kita tepati.

2.  Tak bisa dipercaya

Kebohongan-kebohongan kecil yang dilakukan secara terus menerus, -tak hanya sekali dua kali- tentu membuat kita jadi tak mudah percaya pada orang tersebut ya, kan? Apalagi kalau dalam urusan pekerjaan, kita punya rekan kerja / klien yang banyak melakukan kebohongan kecil, tentu kita menganggapnya tak memiliki kredibilitas. Padahal pribadi yang kredibel itu poin plus lho buat melancarkan bisnis / pekerjaan kita. 

3.  Tak bisa dipegang perkataannya

Jika kita terbiasa melakukan kebohongan kecil, otomatis kita jadi mudah ingkar janji -tak bisa dipegang perkataannya-. Kebohongan kecil sendiripun sebenarnya bisa dikategorikan sebagai sikap ingkar terhadap apa yang kita ucapkan, meski kelihatannya sepele. Tapi kalau jadi kebiasaan, hal yang tampak sepele bisa jadi hal yang menyebalkan :D

4.  Kebiasaan buruk

Jika kebohongan kecil kita lakukan terus menerus, maka lama-lama ini bisa jadi kebiasaan buruk, yang akhirnya membuat kita berpeluang melakukan kebohongan besar. Karena, sebuah kebohongan besar bisa bisa jadi di awali dari kebohongan-kebohongan kecil, yang selalu kita anggap remeh.

5.  Merusak hubungan kita dengan orang lain

Pada akhirnya, kebohongan kecil yang kita lakukan bisa merusak hubungan kita dengan orang lain. Jika kita melakukannya secara berlebihan, dan orang lain merasa terganggu olehnya. Kalau kita bisa memilih teman yang jujur dan yang tak jujur, tentu kita pilih yang jujur dong, ya :) 

Saya, kamu, dan kita semua memang tak sempurna. Pasti kita pernah melakukan kebohongan-kebohongan kecil. Tapi, kita semua tentu bisa berusaha untuk lebih jujur lagi, jangan anggap remeh kebohongan-kebohongan kecil, dan jangan menjadikannya sebuah kebiasaan :) 




*Self reminder*

Comments

  1. bohong kecil lama2 jadi kebiasaan yg buruk...naudzubillah

    ReplyDelete
  2. setuju maakk.. satu kebohongan kecil akan berlanjut ke kebohongan2 berikutnya..

    ReplyDelete
  3. setuju banget mba. sekali berbohong meskipun kebohongan kecil akan membuat orang tidak percaya lagi pada kita

    ReplyDelete
  4. Kita semua tahu, kepercayaan mahal hrganya. Bisa pudar krn kebohongan kecil juga, ya.

    Yaa belajar untk jujur dr dini.

    ReplyDelete
  5. Dulu sekitar aku umurnya 3 tahun, kakak bilang kalo bohong itu nanti digigit ular, sampe sekarang masih inget aja. dan takutnya kalo bohong itu ya digigit ular :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …