Skip to main content

Mau Tau Gak, Kriteria Buku Favoritku?

Kayanya semua orang yang suka nulis, pasti suka baca buku. Tapi gak semua orang yang suka baca buku, pasti suka nulis. Eh, betul gak? Hehe. Kata saya ini, lho. Soalnya, bagi penulis, membaca buku itu bisa sangat menunjang kemampuannya dalam menulis. Semakin banyak buku yang kita baca, akan mempermudah kita dalam mendapatkan ide, mengolahnya, kemudian menuangkannya dalam tulisan. 

Saya pribadi juga suka baca buku, meski gak sampai menggilai. Buktinya, koleksi buku saya gak banyak, beli buku juga gak rutin, daftar buku yang udah dibaca juga gak banyak. Pokoknya gak kaya orang lain deh, yang memang 'kutu' buku. Saya gak terlalu rajin baca buku. Saya juga termasuk yang milih banget kalau baca buku. Hanya buku-buku tertentu aja yang bisa betul-betul membuat saya tertarik untuk membacanya sampai selesai. 


Sumber gambar : weheartit.com



Tapi belakangan ini, saya coba lagi untuk merutinkan baca buku, meski sehari hanya satu atau dua lembar. Sebelumnya sih, saya lebih suka baca-baca artikel di internet, tapi beberapa waktu lalu rasanya kangen banget beli buku, akhirnya beli, deh. Alhamdulillaah. Dan inilah kriteria buku favorit saya :

1.  Kertasnya berwarna putih (terang)

Saya suka buku yang kertasnya berwarna putih, atau mendekati putih. Jadi terang di mata. Saya gak nyaman baca buku yang pakai kertas buram, terus gelap agak keabuan/kecoklatan. Meski buku yang saya beli terakhir gak putih banget, tapi agak krem dikit, tapi masih terang lah, di mata. 

2.  Gaya bahasanya sederhana

Saya suka buku yang memakai gaya bahasa sederhana, artinya gak terlalu berat (sulit dipahami) tapi juga bukan bahasa gaul. Soalnya buat saya merepotkan kalau harus buka kamus untuk cari tau tentang arti kata yang saya baca. Kalau gak di cari artinya, juga kadang bikin ganggu deh, karena jadi bikin bingung gak jelas. 

3.  Bukan fiksi

Saya lebih suka baca buku non fiksi, soalnya saya lebih suka sama sesuatu yang memang ada faktanya, bukan berdasarkan imajinasi / karangan, tapi berdasarkan pemikiran dari fakta nyata. 

4.  Kategori buku yang inspiratif 

Salah satu hal yang membuat saya suka menulis sesuatu yang inspiratif, yaitu karena tertulari oleh apa yang saya suka baca. Saya suka baca buku tentang pengembangan diri, kebijaksanaan, motivasi, pencerahan-pencerahan, atau ilmu Islam. 

5.  Disisipi dengan kisah-kisah nyata di dalamnya

Saya suka buku yang di dalamnya disisipi kisah/cerita nyata yang kemudian di ulas berdasarkan pikiran atau pandangan penulis. Misalnya, penulis bercerita tentang pengalaman pribadi atau orang lain, yang kemudian di ambil hikmahnya oleh penulis tersebut.

Kalau kamu gimana, buku seperti apa sih, yang kamu suka baca? Share ya :)

Comments

  1. Kalo aku lebih suka fiksi mbak, terutama yg detektif2 gitu hehehe

    ReplyDelete
  2. Buku nonfiksi inspiratif ya, mak? Kalo buku Notes From Qatar udah pernah baca? :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Perasaan Mellow

Ngomong-ngomong soal perasaan mellow nih yaaa... Aku juga pernah merasakan mellow, hihi.. Seperti saat aku melihat kehidupanku tak berjalan secemerlang orang lain, atau saat aku merasa jleb ketika melihat kesuksesan orang lain, atau saat aku melihat orang lain begitu bergembira karena bergelimang materi, sementara aku masih harus menahan diri dari membeli banyak hal :p hehe..


Seperti hari ini nih contohnya, barusan aku simak timeline salah satu temanku di sosial media yang menceritakan liburannya keliling kota bersama suami dan anak-anaknya, dan tiba-tiba jleb aja gitu..aku ngerasa sedih :'( *ga sampe mewek siiih* Sedih karena aku udah lama banget ga liburan kemana-mana, karena ga ada budget buat liburan :p Daripada duit aku hamburin buat rekreasi ya mending aku tabungin buat beli rumah, aamiin :)

Menurutku perasaan-perasaan mellow itu normal kok :) bukan perasaan yang membahayakan juga kan, ASAL tak berlebihan yaaa.. Namanya juga manusia yang punya hati dan perasaan. Perasaan suka …