Skip to main content

Saat Bertemu Suka dan Duka di Rumah Harapan Bandung











Wah, udah lama juga nih saya gak share tulisan tentang Rumah Harapan Bandung. Sebenarnya sih saya ngiri *dalam artian positif* sama teman-teman volunteer lain di Rumah Harapan Bandung, yang layak banget diacungin jempol semangatnya untuk Rumah Harapan Bandung. Mereka benar-benar 'bekerja' untuk membuat Rumah Harapan Bandung bisa berjalan lancar dan lebih baik dari waktu ke waktu.

Sejak resmi beroperasi di akhir Januari tahun 2016, hingga saat ini Rumah Harapan Bandung telah menampung puluhan anak-anak sakit dari beberapa wilayah di Indonesia. Memang sih, sebagian besar anak-anak di Rumah Harapan Bandung berasal dari wilayah Jawa Barat (Sunda), tapi ada juga lho pasien yang dari Lampung. Rumah Harapan Bandung terbuka bagi anak-anak yang sedang sakit dari keluarga kurang mampu di seluruh Indonesia.


Acara soft launching Rumah Harapan Bandung, tanggal 26 Februari 2016





Beberapa hari yang lalu, jumlah pasien yang menginap di Rumah Harapan Bandung mencapai 10 anak. Wah, lumayan penuh juga, kalau di banding saat awal-awal Rumah Harapan Bandung beroperasi yang hanya dihuni oleh satu atau dua orang anak saja. Alhamdulillaah, ini berarti semakin banyak anak yang terbantu dengan adanya Rumah Harapan Bandung.

Hal yang paling membahagiakan bagi kami para volunteer adalah saat mengetahui ada anak Rumah Harapan Bandung yang dinyatakan telah sembuh dari sakitnya. Dan inilah yang terjadi beberapa minggu lalu, saat adik Revan (usia 3 tahun) dinyatakan telah sembuh oleh dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin - Bandung, dari penyakit tumor yang dideritanya.


Revan yang kini telah sembuh




Wah, bukan main senang dan leganya kami mendengar kabar gembira tersebut. Kami ikut bersyukur dan bahagia. Meski di sisi lain kami merasa cukup kehilangan, karena kami tak bisa menemukan canda tawa adik Revan lagi di Rumah Harapan Bandung, namun kami melepas kepulangannya ke kampung halamannya di Cirebon dengan hati gembira.

Ada juga cerita lainnya dari adik Lukman (usia 11 tahun) yang telah berhasil dioperasi untuk menyembuhkan penyakit Hypospedia yang dialaminya. Kabar terakhir yang kami peroleh, operasi Lukman berjalan lancar dan kini ia sudah kembali ke kampung halamannya di Kuningan. Alhamdulillaah. Mudah-mudahan Lukman benar-benar bisa sembuh total setelah menjalani operasi tersebut, aamiin.

Namun, bagaimana layaknya kehidupan, ada suka ada duka, ada senang dan sedih. Begitu pula yang terjadi di Rumah Harapan Bandung. Ada kabar bahagia yang kami peroleh, namun ada kalanya pula kami menerima kabar yang menyedihkan. Kabar tersedih yang kami peroleh sepanjang Rumah Harapan Bandung beroperasi beberapa bulan ini, adalah saat salah satu anak Rumah Harapan Bandung bernama Vitra (usia 4 tahun) harus berpulang untuk selamanya.


Vitra saat pertama datang ke Rumah Harapan Bandung



Vitra yang berasal dari Kuningan ini telah menjadi penghuni Rumah Harapan Bandung sejak akhir Februari lalu. Vitra yang di awal kedatangannya ke Rumah Harapan Bandung masih tampak segar ini, harus berjuang melawan penyakit Leukimia yang dideritanya. Vitra dan orangtuanya bolak-balik dari Kuningan ke Bandung untuk menjalani pengobatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

Tak sampai 3 bulan, Vitra menjadi salah satu penghuni di Rumah Harapan Bandung, Allah memanggilnya untuk pulang. Kami turut bersedih dan kehilangan. Namun kami yakin bahwa kepergian Vitra dari sisi kami untuk selamanya adalah yang terbaik. Kini rasa sakit yang ia alami telah hilang. Vitra kini telah bahagia berada di tempat yang paling indah :)

Buat teman-teman blogger yang mau ikut membantu anak-anak di Rumah Harapan Bandung, baik itu berdonasi dalam bentuk uang, barang-barang kebutuhan di Rumah Harapan Bandung, maupun donasi berupa support (misal: kunjungan, menjadi volunteer, dll), bisa menghubungi Koordinator Rumah Harapan Bandung, Arief (0856-2442-2585).


Comments

  1. Paling nggak kuat datang ke tempat seperti ini. Semoga Allah menganugerahi mereka dengan kesabaran dan kekuatan :(

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Istri kurang syukur atau suami kurang sadar kewajiban???

Masalah uang memang kerap menjadi biang keladi dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Suami istri bertengkar mengenai uang bukanlah hal yang aneh, malah rasanya kita udah ga heran lagi kalau uang sering jadi pemicu pertengkaran. Sepertinya sih, bukan suami istri aja yang suka ribut soal uang, anak sama ortu, atau kakak sama adik pun bisa ribut gara-gara uang :p 

Dulu, sebelum aku nikah..mama suka bilang kalau masalah uang bisa jadi sensitif banget buat suami istri. Mama menasehatiku untuk bisa meminimalisir atau menghindari ribut soal uang setelah berumah tangga. Meskipun kenyataannya susaaah bukan main >_< 

Kayanya ga ada ya suami istri yang ga pernah ribut soal uang :p hanya saja tiap rumah tangga berbeda kadar pertengkarannya. Ada yang hanya sekedar ribut-ribut kecil, tapi ada juga yang sampai ribut besar gara-gara uang, bahkan berujung pada perceraian. 



Suami banyak uang, istri ribut minta uang lagi dan lagi..sementara suami ga punya uang, istri ribut minta suami cari uang …

Hati yang Luka Ibarat Kaca yang Pecah

Buat saya, hati yang luka ibarat kaca yang pecah. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 

***

Saya pribadi gak ingin sampai mendendam ataupun sekadar membenci, saat saya disakiti oleh orang lain. Saya tau tak ada manusia yang luput dari khilaf, apalagi manusia yang imannya masih lemah seperti saya. Kerapkali saat kita melakukan kesalahan, kita gak sadar bahwa kesalahan kita membuat hati orang lain begitu terluka. 

Jadi, saat orang lain menyakiti saya, saya berusaha untuk memaafkannya. Saya berusaha tetap mengharapkan yang terbaik untuk orang yang menyakiti saya, saya juga masih bisa mendoakan kebaikan untuknya. Saya berharap tak ada rasa benci apalagi dendam terhadap orang lain. Na'udzubillah. Perasaan-perasaan buruk seperti benci dan dendam, pada akhirnya malah menjerumuskan hati kita sendiri bukan? 

Emosi-emosi negatif seperti benc…

Teliti Saat Datang Ke Counter Service

Berkaitan dengan postinganku beberapa hari lalu tentang si BB yang bikin galau karena rusak, nah..alhamdulillaah kemaren BB ku sudah kembali beroperasi, kembali ribut dengan notifikasi beberapa menit sekali *saking eksisnya diriku, hihi..lebay*. 

Jadi  gini ceritanya, pas rusak beberapa hari lalu itu aku coba goggling untuk cari tau kira-kira apa penyebab BB ku rusak ga bisa di charge. Berdasarkan hasil goggling sih kayanya konektor charger BB ku yang rusak jadi dicharge ga bisa masuk (ga nyambung).

Aku putusin untuk bawa BB ku ke counter service BB di Cimahi Mall. Sampailah aku di salah satu counter, sebut saja counter A. Aku bilang BB ku ga bisa di charge, terus si penjaga counter tersebut memeriksa keadaan BB ku. Ga berapa lama kemudian, penjaga counter tersebut bilang kalau BB ku konektor chargernya rusak, dan harus diganti. Ahaaa, berarti hasil gogglingku tepat ^^ Ehh, beberapa menit kemudian si penjaga counter bilang lagi kalau batre BB ku juga rusak, katanya udah kembung.. ya ela…